welcome to my blog ^^ link4 BestFreeDesign.Com border=

Rabu, 09 Februari 2011

MONICA & MARIO
“woi, ngelamun terus mikirin apa sih ?” Suara Rere mengagetkanku. “apaan sih ?” gerutuku kesal. Dari arah pintu Pak Anto masuk dengan menjijing buku dan laptop ‘toshiba’nya. Pukul 11.30 Pak Anto mengakhiri pelajarannya. “eh, kita ke café biasa yuk“ ajak Rere, “ah males ah, lagi bete ni“ balas ku. “ayolah cuman bentar aja kok“ bujuk Rere sambil menyodorkan wajah memelasnya. “iyaiya, dasar“. “gitu dong“ tawa Rere girang.
Monic, masih memikirkan message dari Mario tadi malam. Pikirannya tidak terfokus dengan Rere yang daritadi berbicara dengannya. “ya kan mon?”. lamunanku terbuyar. “ha? apa?”,“maaf re, tadi kamu ngomong apa?” tambahku. “yaah, ini anak, dari tadi aku ngoceh, gak di dengerin, ckck” aku tidak menjawab. Ku teguk es jeruk di hadapanku. “pulang aja yuuk” ajakku. Aku antar Rere ke kontrakannya. Setelah itu, aku buka message dari Mario tadi malam. Ku perhatikan message itu. Aku masih tidak tahu maksud pesan itu apa.
Tiba-tiba suara handphoneku berdering, “mon, aku ada di depan rumah mu” suara singkat dari Mario. Monic bingung, kenapa Mario ke rumahnya malem-malem gini, bergegaslah monic membuka pintu rumahnya. Saat di buka terlihat cowok tinggi berkemeja hitam berdiri tegak di depan pintu. Itu adalah Mario, “ada apa?“ panggil Monic. Terlihat di wajah Mario menyimpan sejuta pesan yang mau ia sampaikan. Segeralah Monic mempersilahkan Mario duduk di bangku rotan teras rumahnya. Mario gugup, jarang sekali Mario terlihat seperti ini.
“belum tidur kah?” Mario membuka pembicaraan. “belum nih”, “ada apa?” lanjutku.
“masa aku ke sini gak boleh?” jawab Mario sambil mencubit pipiku. Aku tersenyum malu.
“boleh si, tapi tumben aja. Mendadak lagi” terlintas, aku teringat dengan message Mario kemarin. “hemm, kamu udah baca messageku kan? Aku cuman mau menjelaskan aja”. Aku melihat Mario, wajahnya santai-santai aja.
Setelah ia ceritakan semuanya, Mario beranjak pergi menuju mobil jazz merahnya yang ia parkir didepan rumahku. Ia meninggalkanku dengan muka kecewa. Sesekali ia tersenyum lalu pergi. Aku hanya bisa menatapi pemberian Mario, yang ia taruh di atas meja, dengan kertas kado berwarna biru.
Pagi itu Monic mengantar Mario ke bandara. Sebenarnya monic tidak mau, kalau Mario pergi. Karna ini untuk masa depan Mario, ia merelakannya. Cowok itu akan kuliah di Australia, jauh dari papa mamanya dan jauh dari Monic. Monic ingin Mario selalu di sisinya. “take care yah, jangan macemmacem, kalau gak ada aku” kata cowok itu lembut “iya, jaga dirimu sayang” jawabku. Mario tersenyum kecil dan melambaikan tangan lalu pergi meninggalkanku. Aku balas dengan senyuman. Aku bukan sedang bahagia, aku hanya menutupi rasa sedihku dengan senyuman. Air mataku keluar, saat Mario jalan menjauh dari tempatku berdiri sekarang.
“ditinggal pergi yaa” ejek Daniel. Daniel adalah sahabat dekat Mario. Aku balas senyum sinis dan kembali membaca. “jangan ketus gitu” kata Daniel di ikuti nyengirannya. “apaan si?” jawabku kesal. Kesalku pada Mario belum hilang juga. Padahal Mario udah pergi, mungkin saja ia udah mendapat dunia baru dan gak bakal mengurungkan niatnya untuk pergi. Tadi malam aku dan Mario sepakat, hubungan ini tetap dilanjutkan. Longdistance tepatnya. Aku masi ingin berhubungan denganya. Daniel mengganggu terus. Ku lempar novel yang ku baca itu, lalu pergi meninggalkan Daniel di ruangan itu. Cowok itu memasang wajah bingung.
Beberapa bulan setelah Mario pergi, akhirnya aku sudah bisa merelakannya. Meskipun komunikasi agak terganggu. Siang itu aku tidak membawa mobil. Ku lihat jam tanganku, taksi tak kunjung lewat. “bisa-bisa aku mati gosong di sini” kataku kesal. Tiba-tiba mobil kijang hitam, berhenti di hadapanku. Keluar cowok dengan kemeja putih, yang tak lain adalah Daniel. “ku antar kamu pulang, mau?” “percuma, sampe bengek juga gak ada taksi yang lewat” ajak Daniel. Aku menerima tawarannya, ada benarnya juga dia. Sepertinya ini bukan jalan menuju rumahku. “kita mau ke mana, dan?” tanyaku. “ke tempat makan, aku laper” jawab Daniel, sambil menoleh ke arahku lalu fokus ke jalanan. “oh..”.
Sesampainya di sana, kita langsung duduk. Tak lama waiterspun datang membawa nampan berisi menu dan selembar kertas. “kamu mau apa, mon?” Tanya Daniel. “aku tersera aja” jawabku. “ok, 2 jus jeruk dan 2 beef steak” kata cowok itu. Waiters menulis pesanan lalu pergi. “gak apa-apakan? Ku ajak kamu kesini. Ku traktir deh” cowok itu membuka pembicaraan. “gapapa kok. Haha iyaiya” jawabku. Tiba-tiba, suasana menjadi hening, hanya suara orang sekitar saja. Waiters yang tadipun datang, membawa pesanan kita tadi. “kemarin aku dapat email dari Mario, dia nanya kabarmu” ucap Daniel. Wajah lesu Monic berubah menjadi wajah girang, mendengar perkataan cowok itu. “biasa aja kalik, wajahnya” di iringi dengan tawa pelan. “biarin, wekk” ku balas dengan meletan. Kita ngobrol satu sama lain, tertawa, bercanda ria. “udah sore, pulang yuk” hari sudah sore, Daniel mengantar ku pulang kerumah.
Beberapa hari setelah itu, aku di kejutkan dengan pernyataan Daniel. Ia menyatakan perasaannya. Cowok itu juga membawa kotak berwarna biru. Aku jadi teringat masa-masa di mana, Mario menyatakan cintanya. Di depan rumah, dan sebuah kado. Pikiranku terfokus pada masa lalu, bukan pada seseorang di hadapanku yang sedang mengeluarkan isi hatinya “maaf dan, kamu sudah ku anggap sebagai teman, just friend no more” aku tidak tahu mau jawab apa ke dia. Karna sama sekali rasa sukapun gak ada ke dia. Daniel kecewa, terlihat memang di wajahnya. Tapi dia menutupi itu semua dengan senyum. Rasa bersalah muncul. Sejak aku dan Mario belum menjalin hubungan sebenarnya Daniel sudah pernah menyatakan perasaannya. Tapi ku tolak, dan untuk kedua kalinya ku tolak juga.
“I know you still love him” ucapnya. Dan ia pergi tanpa meninggalkan kata sepatah pun, aku tau kalau Daniel kecewa atas jawabanku.
Monica berjalan menuju ruang kelas, mencari Daniel berniat untuk minta maaf dan membicarakan semuanya, tapi tiba-tiba ada yang menyapanya dari belakang “Monic ”, aku kaget. Spontan aku menoleh kebelakang. Ternyata Daniel menyapa ku, kubalas dengan senyuman. Aku bingung, kukira dia bakal marah karena perlakuanku kemarin. Daniel berlagak seperti biasa seperti tidak ada apa-apa. Mungkin ia sudah melupakan kejadian kemarin. Ia menarik ku kedalam.
Mereka duduk bersebelahan. Tampak bingung di raut wajah Monic, ia ingin membicarakan soal kemaren. “dan, aku mau bilang…“ Monic membuka pembicaraan, tapi Daniel menyela “soal kemaren? sudahlah. forget it,”,“aku sudah nyaman kok sebagai temanm, mungkin kita memang gak cocok“ tambahnya. Monica hanya bisa diam mendengar perkataan Daniel. “aku bisa menerima semua ini kok” tambah Daniel. Monica hanya tunduk dan diam. Dia sudah tak tau akan membicarakan apa.
Tak terasa sudah hampir setahun Mario pergi, terkadang setiap minggu dia mengirimku email menelfon ku, menanyakan kabar. Tapi itu sudah bisa mengobati rasa kangenku walau hanya bisa mendengar suaranya.
Beberapa hari sebelum tepat setahun dia pergi. Aku sms dia, tapi tak ada satupun balasan darinya. Emailku pun tak di balas. Aku telpon, tapi tak diangkat terkadang malah di reject. Perasaan takutpun muncul. Ada apa dengannya? Ada apa disana? “mungkin Daniel tahu” benakku. Bergegaslah aku meneleponnya. “haloo..”suara dari sebrang. “halo, Daniel, kok Mario gak balas sms, emailku yah?” tanyaku, tanpa basa basi. “iyakah? Aku gak tau tuh, aku juga udah gak komunikasi lagi sama dia, Mon. maaf yaa” jawab Daniel. Aku akhiri telefon itu dengan perasaan kecewa. Aku masih bertanya tanya.
Malam sebelum Mario pergi, cowok itu memberikan kalung. Berinisial M & M. Mario dan Monica. Ku tatapi kalung itu, dan berharap Mario menelfonku. Besok, Mario akan pulang ke Indonesia. Ia sudah janji, saat ia datang ke rumahku pada malam hari itu kalau disana hanya setahun,dan akan pulang. Kupegang janji Mario.
Besok, adalah hari yang sangat kunantikan. Yang ada di benakku hanyalah seorang cowok tinggi tegap dan itu adalah Mario.
Keesokkan harinya, aku sudah berdandan cantik, memakai dress santai selutut. Tak sabar untuk menjemput Mario. Aku mempercepat mobilku. Menit demi menit kutunggu tapi penerbangan Australia-Indonesia yang pertama sudah mendarat, tak terlihat batang hindungnya sekalipun “ah mungkin penerbangan yang ke dua“ penerbangan kedua masih nanti sore. Monica masih setia menunggu dibandara hingga menjelang malam.
Tiba tiba ia mendengar kericuhan, orang berlari cepat. Ia bingung. Monica pun tak segan bertanya pada petugas bandara tersebut. “ada pesawat tergelincir dan sebagian pesawatnya terbakar” kata petugas tersebut. “oh terima kasih” jawab Monic pelan. Dia terdiam dan berharap itu bukan pesawat yang Mario tumpangi. Tapi waktu pendaratan pesawat australi tepat pada kecelakaan itu. Di perjalan Monic terus berharap tidak akan ada hal buruk.
Sesampainya di rumah, ku rebahkan tubuhku dan nyalakan tv. Untuk menghibur dari rasa penat. Aku tertarik dengan berita kecelakaan pesawat itu.
‘sore jam 16.43, pesawat dengan jurusan Australi-Indonesia tergelincir di Bandara Soekarno Hatta. Yang membawa 200 orang. Di kabarkan ada 5 orang tewas dan 112 luka-luka. Berikut nama orang yang tewas…
Chyntia sella (20)
Bambang haryanto (56)
Mario (19)
Mr.x
Mr.x ‘
Tiba-tiba air mataku keluar. Perasaanku sudah tidak bisa di gambarkan lagi. Handphoneku bergetar, ku angkat telpon itu, tanpa melihat siapa yang menelepon. Tubuhku diam kaku. Seperti di terjang petir. “haloo Monic, kamu sudah..” Monic menangis, Daniel tidak melanjutkan perkataanya. Ia tutup telfon dari Daniel. “mana janjimu, kamu janji akan pulang” ucapnya berteriak, ia marah, kesal, bingung. Di lempar kalung pemberian itu, sampe jatuh kelantai. “aaarrrrgghhh.. Marioo” teriak Monic masih tidak percaya, ia tidak bisa menerima ini, ia tidak bisa merelakannya.
Pagi yang cerah tidak secerah wajah Monic yang berjalan tertatah tatah memasuki area pemakaman. Terlihat sudah banyak orang memakai baju hitam. Suara tangisan dari mama papanya,teman-temannya. Aku hanya bisa menatap rumah 2x1 yang akan ditinggali Mario, selamanya. Mataku terpaku kosong. Takku sadari Daniel memandangiku dari kejauhan. “aku turut berduka yaa”. Aku menahan air mataku keluar seolah Mario sedang di hadapanku dan menyuruhku untuk tidak menangis.
Semua orang pergi. Aku mendekat, dan jatuh duduk. Tak tahan menahan tubuhku. Airmata tak hentinya keluar. “janjimu mana mar, aku sayang kamu, aku gak mau kamu pergi” terlintas teringat saat masa-masa pacaran, jalan berdua. Membuat hati Monic tak tahan..
Keesokan harinya, Daniel bercerita. Monic berusaha untuk tegar. Disitu Daniel mengungkapkan semuanya, semua rencana Mario. “sebenarnya beberapa hari sebelum ia pulang ke Indonesia, ia mau membuat kejutan untukmu. Dan ia merahasiakan itu darimu. Aku juga gak mau kehilangan sahabat dekatku. Ternyata kejutan itu adalah..” perkataan Daniel terhenti oleh tangisan Monic, Daniel memeluk hangat Monic.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar